Home » » Tidak Diperhatikan Pemerintah Kecamatan , Keluarga Korban KM Sinar Bangun Merasa Kecewa

Tidak Diperhatikan Pemerintah Kecamatan , Keluarga Korban KM Sinar Bangun Merasa Kecewa

Written By Faktaonlline.net on Saturday, July 7, 2018 | Saturday, July 07, 2018

 Sulasno memegang foto kenangan usai acara wisuda Mutiara Tri Murni,,salah seorang korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba belum lama ini,

Deliserdang I Faktaonline.net - Salah seorang keluarga korban musibah tenggelamnya KM Sinar Bangun yang terjadi di Danau Toba 18 Juni 2018 lalu mengaku kecewa kepada pemerintah kecamatan tempat tinggalnya.
Pasalnya mulai kepala dusun, Pj Kades hingga Camat kecamatan Percut Seituan Kabupaten Deliserdang tempat tinggalnya selama ini dianggap tidak memiliki perhatian terhadap warganya yang terkena musibah tenggelam di perairan Danau Toba walau sudah diinformasikan tentang peristiwa ini. "Jangankan memberi bantuan, datang saja sekedar memberi ucapan belasungkawa kepada keluarga kami yang ditimpa musibah sudah syukur. Tetapi sampai detik ini tidak ada satupun pejabat pemerintah disini yang datang " kesal Sulasno yang saat itu juga didampingi salah satu tokoh pemuda dan anggota FKDM Deliserdang Sumarno,SH.
Sementara itu Sumarno yang turut mendampingi Sulasno pada kesempatan itu juga sangat kecewa dengan sikap pemerintah yang dinilai tidak memiliki perhatian terhadap warganya. "Seharusnya sebagai pejabat sudah kewajiban mereka untuk menjenguk warganya, tapi faktanya tidak satupun mereka yang datang ke rumah warganya ini. Kita cukup kecewa"tegas Sumarno.
Kekecewaan tersebut disampaikan Sulasno, 52, orangtua dari Mutiara Tri Murni, 24, warga Jl Beringin Pasar VII Gg Anggur Desa Tembung Kecamatan Percut Seituan salah satu korban tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun dikediamannya, Sabtu (7/7/2018).
Sulasno menjelaskan, kepergian untuk selama-lamanya anak ketiga dari 4 bersaudara yang lahir 7 Desember 1994 ini bermula pada Senin pagi saat korban dijemput oleh temannya Eko Hardianto warga Kampung Tempel Siantar bersama tiga teman lainnya mengendarai sepeda motor untuk acara lebaran Idul fitri di Siantar.
Setelah mendapatkan izin dari orangtuanya, korban dan Eko pun pamitan. Saat itu, baik Sulasno maupun Mardiana Rosa tidak memiliki firasat buruk kepergian korban. Pada hari yang sama,lanjut Sulasno, menjelang siang salah seorang adiknya juga pergi ke Siantar ke rumah temannya. Bahkan, adiknya saat itu sempat berkomunikasi dengan korban dan berjanji akan bertemu di Siantar, tetapi korban bersama Eko dan temannya keburu sudah pergi ke lokasi wisata Tigaras. Sejak saat itu komunikasi antara kakak beradik terputus dan adiknya pulang.
Pada Senin (18/6/2018) pukul 21.00 saat sedang beristirahat dirumah, Sulasno mendapatkan khabar dari tetangganya yang menyaksikan siaran langsung salah satu stasiun televisi bahwa ada peristiwa tenggelamnya kapal motor Sinar Bangun di Perairan Danau Toba. Semula ia tidak mengira kalau anaknya juga merupakan salah satu korban dari peristiwa naas tersebut. Ia pun berusaha untuk tenang dan terus mengikuti perkembangan dari salah satu stasiun televisi swasta yang menyiarkan langsung peristiwa tragis itu. “Kami tidak pernah berfikir kalau korban bersama temannya ini pergi kesana, karena semula ia hanya bilang kalau ingin ke Siantar saja ditempat Eko Hardianto makanya kami izinkan dan pulangnya menginap di rumah teman kuliahnya Devi di Tebing Tinggi sebagaimana yang dilakukannya selama ini. ”sebut Sulasno seraya menyebutkan ia tetap menghubungi hp anaknya tersebut.
Khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, pada Selasa (19/6) pagi Sulasno dan Masdiana Rosa memutuskan untuk pergi ke lokasi dan berkumpul bersama keluarga korban lainnya di posko yang disediakan sembari mencari informasi dari nama-nama penumpang yang menjadi korban. Setelah yakin dan memastikannya selama 3 hari berada disana, Sulasno dan Masdiana pun memutuskan kembali ke rumahnya mengabarkan peristiwa ini kepada keluarga. Isak tangis dari keluarga dan tetangga pun tak terbendung ketika mendengarnya. Baik Sulasno maupun Masdiana Rosa mengaku tabah dan ikhlas atas kepergian korban karena ini merupakan cobaan. "Kami sudah mengikhlaskan kepergian Mutiara Tri Murni untuk selama-lamanya, dan untuk mengenang kepergian beliau kami juga telah melaksanakan shalat ghaib dan kenduri arwah"ucap Sulasno.
Pada kesempatan itu Sulasno memberi apresiasi kepada Tim SAR dan petugas gabungan lainnya yang telah bersusah payah melakukan pencarian walaupun masih banyak korban yang belum ditemukan termasuk anaknya. Begitu juga kepada Pemkab Simalungun yang memberi perhatian dan bantuan kepada seluruh keluarga korban selama ini. (DS-01)


Post a Comment