Home » » Kampoeng Batik Semarang , Berbelanja Sambil Belajar Membatik

Kampoeng Batik Semarang , Berbelanja Sambil Belajar Membatik

Written By Faktaonlline.net on Monday, December 3, 2018 | Monday, December 03, 2018


Semarang I Faktaonline.net - Kampung Batik Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah merupakan tempat wisata berbelanja kain atau baju batik sambil belajar membatik.
Kampung ini terletak tak jauh dari Kota Lama dan Pasar Johar Kota Semarang. Tepatnya di Kelurahan Rejo Mulyo RT 02 yang memiliki gapura besar bertuliskan "Kampung Batik Semarang". "Kampung ini memang unik. Hanya satu RT. Kampoeng Batik hanya dihuni 24 KK, dan dari 24 KK ini, hanya 12 rumah yang aktif memproduksi batik" kata Dwi Christianto saat Tim Persatuan Wartawan Pemko Medan berkesempatan mengunjungi Kampung Batik Semarang , Rabu (28/11/2018).

Sebelum masuk kampung ini di depannya dibatasi dengan stand stand yang menjual produk batik mereka. Pelancong boleh membelinya disitu. Tentunya setelah belajar membatik diselembar kain putih yang telah disiapkan dengan merogoh kocek Rp 30 ribu. Selesai membatik, hasilnya boleh dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Menurut Dwi Christianto, Kampung Batik terinsvirasi saat Wali Kota Semarang sebelumnya membuat acara membatik bersama di kampung tersebut. "Sejak itu, kampung ini dinobatkan menjadi kampung batik. Namun tidak bertahan lama. Kampung ini kembali sepi. Tetapi sejak tahun 2016, kampoeng batik menjadi viral setelah dilukis oleh seorang seniman lukis, bernama Luwianto," jelas Dwi. Bahkan lukisan yang menceritakan sejarah terbentuknya kampoeng batik yang dilukis di salah satu dinding gang itu saat ini menjadi sangat viral di medsos. "Sekarang malah sudah diketahui manca negara," tambahnya.

Sementara itu, Luwianto menambahkan, ide menghidupkan kembali Kampung Batik ini lantaran lukisan dindingnya viral di Medsos. Sejak itu dirinya mulai menyadarkan kembali beberapa warga untuk kembali menghidupkan Kampoeng Batik walau tanpa bantuan pemerintah. "Sejak itu perlahan-lahan kampung kami ini mulai kembali didatangi pelancong. Perekonomian masyarakat pun mulai membaik, seiring kedatangan mereka yang datang untuk belajar membatik maupun belanja," sambung pria asal Jogyakarta ini.

Salah satu rumah yang sempat dikunjungi Tim Persatuan Wartawan Pemko Medan, menunjukkan seorang wanita tengah membuat skets batik persis di depan rumahnya. Wanita paruh baya itu menyapa ramah. "Batik Semarang berbeda dengan batik Jogyakarta dan Solo. Perbedaan tersebut dari sisi motifnya, ciri-ciri Batik Semarang bermotif kembang kangkung dan Manuk Pletuk. Harga Batik Semarang cukup variatif. Dari harga Rp150 ribu hingga Rp5 jutaan tergantung kwalitas dan motifnya" jelas Luwito

Ditempat sama , Edo Pramono , pemandu, yang ikut mendampingi mengunjungi tempat tempat wisata di Semarang menjelaskan, Produksi Batik Semarang tidak kalah kwalitasnya dengan batik, Jogya, Solo dan Pekalongan. "Batiknya ndak luntur mas. Ada malah yang makin dicuci makin cerah warnanya," ujarnya. 

Sementara, Kabag Humas Pemko Medan Ridho Nasution yang diwakili Kasubbag Humas Pemko Medan, Hendra Tarigan S.Sos saat ditanya tujuan mengunjungi Kampoeng Batik mengatakan, apa yang dilakukan Pemko Semarang dapat menjadi inspirasi dan diadopsi Pemko Medan untuk diterapkan Kota Medan. "Kampoeng Batik ini sangat menginspirasi kita. Apa lagi dengan adanya Sentra Batik Medan yang diperkenalkan Ketua TPPK Ibu Hj Maharani dapat meniru tindakan Kampung Batik Semarang agar mampu mendatangkan wisatawan," jelas Hendra.. (amd)

Post a Comment